Home » IT » What’s RAID?

What’s RAID?

raid2

RAID merupakan singkatan dari Redundant Array of Independent Disk atau kadang disebut juga Redundant Array of Inexpensive Disk. Artinya adalah sekumpulan intruksi konfigurasi susunan yang diterapkan pada beberapa Harddisk (HDD). Konfigurasi ini berfungsi untuk meningkatkan kinerja, kehandalan dan daya uji yang tinggi yaitu dengan cara menggabungkan beberapa Harddisk sehingga menjadi sebuah satu kesatuan HardDisk secara logic.

raid

Ada beberapa konfigurasi RAID yang terkenal dan umumnya dipakai, di antaranya RAID 0, RAID 1, RAID 5. Lalu ada juga konfigurasi RAID yang merupakan gabungan dari dua konfigurasi RAID, misalnya RAID 10 (merupakan gabungan dari RAID 1 dan RAID 0). Konfigurasi RAID yang jarang dipakai adalah RAID 2, RAID 3, RAID 4 dan RAID 6. Pembahasan RAID pada artikel ini hanya sebatas RAID 0, RAID 1, dan RAID 5.

RAID 0

RAID 0 atau biasa disebut stripping RAID adalah konfigurasi RAID yang mengutamakan kebutuhan performa dari sebuah sistem. Jadi jika ingin membangun sebuah sistem yang membutuhkan akses baca tulis data secara cepat dapat menggunakan jenis RAID 0.

Sistem kerja dari RAID 0 adalah penyebaran blok-blok data ke setiap Harddisk. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

ScreenShot036

Blok data A, B, C, D, E dan F disebar ke seluruh Harddisk (disk 1 dan disk 2) sehingga akses ke data yang ada di dalam Harddisk tersebut menjadi cepat. Namun konsekuensinya apabila terjadi kerusakan pada salah satu Harddisk, maka sistem akan rusak dan data akan sulit untuk dipulihkan. Oleh karena itu jangan gunakan konfigurasi ini apabila data yang akan digunakan bersifat kritikal (baca: penting). Kebutuhan minimal Harddisk untuk RAID 0 adalah 2 (dua) dan diutamakan identik merek, tipe dan kapasitasnya.

Contoh kasus: Harddisk A (merk WDC, 7200RPM 16MB cache, 500GB) akan dikonfigurasi RAID 0 dengan Harddisk B (merk Seagate, 7200RPM 8Mb cache, 320GB). Konfigurasi RAID 0 tetap dapat dilakukan dengan menggabungkan HDD A dan HDD B, namun hasil yang akan didapat tentunya tidak akan semaksimal apabila HDD A digabungkan dengan HDD sejenis (merk WDC, 7200RPM 16MB cache, 500GB). Hasil RAID 0 yang akan didapat dengan konfigurasi tersebut (HDD A + HDD B) adalah sebagai berikut:

HDD A (500GB) + HDD B (320GB) = 640GB

Eh? Kok bisa jadi 640GB darimana?

Jadi apabila terdapat perbedaan kapasitas antara HDD pada konfigurasi RAID 0, maka HDD dengan kapasitas terkecil akan menjadi acuan untuk kapasitas gabungan total seluruh HDD. Jadi untuk kasus di atas yaitu HDD A yang aktualnya memiliki kapasitas 500GB akan dipangkas kapasitasnya sehingga sama dengan kapasitas pada HDD B (320GB). Kemudian jumlah kedua kapasitas itu yang menjadi hasil RAID 0 (320GB x 2 = 640GB). Selisih yang terdapat pada HDD A (500GB –  320GB = 180GB) akan dibuang percuma.

Oh iya, fungsi cache pada setiap HDD pada konfigurasi RAID akan diabaikan juga karena tidak relevan dengan teknologi RAID.

RAID 1

RAID 1 (satu) merupakan konfigurasi RAID mirroring (cermin) yang artinya konten pada sebuah HDD merupakan cerminan HDD lainnya yang tergabung dalam RAID 1 tersebut.

Sistem kerja dari RAID 1 adalah penyebaran blok data pada sebuah HDD yang disebar ke HDD lainnya sehingga setiap HDD memiliki konten/isi data yang sama persis atau identik. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

ScreenShot037

Blok data A, B dan C pada Disk 1 akan dicerminkan ke Disk 2 sehingga kedua HDD tersebut menjadi sama isi dan konfigurasinya. Apabila terjadi kerusakan pada salah satu HDD maka HDD lainnya dapat menggantikan fungsi dari HDD yang rusak tersebut.

Contoh:

Kita anggap saja HDD A akan dikonfigurasi RAID 1 dengan HDD yang identik (A’). Sehingga hasilnya didapat:

HDD A (500GB) + HDD A’ (500GB) = 500GB

Apabila terjadi kerusakan secara fisik pada HDD A maka HDD A’ dapat menggantikan secara langsung tanpa perlu melakukan reboot/shutdown/logoff komputer sehingga downtime menjadi tidak diperlukan.

Kebutuhan HDD untuk membentuk konfigurasi RAID 1 adalah minimal 2 HDD dan disarankan dengan merk, tipe dan kapasitas yang sama.

Konfigurasi RAID 1 cocok untuk sistem yang membutuhkan reliability dan ketersediaan data yang tinggi (Highly Available).

RAID 5

Raid 5 merupakan konfigurasi RAID yang menggunakan teknologi parity (penyeimbang) yang terdistribusi, sehingga memperkecil potensi bottleneck yang terjadi akibat multiple akses yang dilakukan ke HDD RAID 5.

Mari kita lihat ilustrasinya.

ScreenShot055

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa parity (p1, p2 & p3) terdistribusi ke setiap HDD yang dikonfigurasi RAID 5. Jumlah minimum HDD untuk dapat dikonfigurasi RAID 5 adalah 3 buah. Selanjutnya, berlaku rumus (n+1, n>1).

Contoh kasus: Harddisk A (merk WDC, 7200RPM 16MB cache, 500GB) akan dikonfigurasikan RAID 5 dengan Harddisk B & C (identik dengan HDD A).

Maka hasilnya adalah sebagai berikut:

HDD A (500GB) + HDD B (500GB) + HDD C (500GB) = 1000GB (1 Terra)

Hanya sekitar 70% dari total seluruh kapasitas gabungan HDD RAID 5 yang aktualnya dapat digunakan.

Konfigurasi RAID 5 sangat bagus dari segi price/perfomance. Oleh karena itu sangat disarankan untuk digunakan pada sistem yang menggunakan database secara intens, namun database yang dimaksud hanya diakses baca saja (read only), bukan untuk akses tulis (access write).

raidee

Source: rachmadona.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s